Jumat, 03 Juni 2016

ARTIKEL KOMUNIKASI DAN PENYULUHAN PERTANIAN

Nama: Juniar abdillah
Nim: 201310210311035
Jurusan: agribisnis VI A

LATAR BELAKANG
   Kegiatan penyuluhan pertanian adalah suatu kegiatan penyampaian informasi kepada orang lain, dengan harapan orang tersebut dapat berubah perilakunya dengan mau melaksanakan informasi yang disampaikan. Seseorang berubah perilakunya dapat disebabkan setelah berinteraksi dengan orang lain. Bila kita ingin berinteraksi dengan orang lain, maka komunikasi amat diperlukan. Sehingga informasi apa yang ingin kita sampaikan dapat diterima oleh mereka. Berbicara penyuluhan, penyuluhan adalah proses pendidikan nonformal, yang intinya ingin merubah perilaku dari sasaran penyuluhan itu. Perubahan perilaku dapat terjadi apabila terjadi interaksi penyuluh yang akan menyampaikan informasi baru dengan sasaran dengan melakukan komunikasi dengan baik. Pertanyaannya, apakah komunikasi sudah berjalan dengan baik
   Penyuluh pertanian dapat dan harus menggunakan teknik-teknik komunikasi yang paling efektif agar sasaran mau menerapkan pengetahuan baru nya itu. Melalui komunikasi yang efektif dapat menunujang keberhasilan penyuluhan pertanian.



KOMUNIKASI
   Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, dan yang dinyatakannya itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai penyalurnya. Dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan (Effendi, Onong Uchjana, 1995: 9).
   Sementara untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Paradigma Laswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yakni: Komunikator, Pesan, Media, Komunikan, dan Efek. Jadi, menurut Lasswell dalam Effendy, Onong Uchjana(1995: 10) bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
   Dengan demikian komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan. Jika tidak terjadi kesamaan makna antara komunikator dan komunikan, dengan kata lain jika komunikan tidak mengerti pesan yang tidak diterimanya, maka komunikasi tidak terjadi. Dalam rumusan lain, situasi tidak komunikatif. Menurut Fisher dalam Arifin, Anwar (1995: 20), menyatakan bahwa tidak ada persoalan sosial dari waktu yang tidak melibatkan komunikasi.
   Secara sederhana Ardianto, Elvinaro (2009; 51) menjelaskan komunikasi adalah proses penyampaian pengertian antar individu. Masyarakat manusia bisa ada, akibat kapasitas manusia untuk menyampaikan maksud, hasrat, perasaan, pengetahuan, dan pengalaman dari orang yang satu kepada yang lainnya. Pada hakekatnya, komunikasi adalah suatu perilaku, dimana suatu sumber menyampaikan satu pesan kepada penerima dengan tujuan mempengaruhi perilaku si penerima.

PENGERTIAN PENYULUHAN PERTANIAN

bbppl - kom2    Istilah alternatif untuk penyuluhan dalam bahasa Belanda, digunakan kata voorlichting yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi Negara-negara jajahan Belanda, walaupun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua pihak. Indonesia misalnya, mengikuti cara Belanda dengan menggunakan kata penyuluhan, sedangkan Malaysia yang dipengaruhi bahasa Inggris menggunakan kata perkembangan. Bahasa Inggris dan Jerman masing-masing mengistilahkan sebagai pemberian saran atau Beratung yang berarti seorang pakar dapat memberikan petunjuk (Dari berbagai pandangan masih ditemukan beberapa kesamaan persepsi, menurut (Van den Ban & Hawkins, 2011: 25) satu diantaranya, yaitu bahwa “penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar” Disini terlihat adanya keterkaitan antara komunikasi dengan penyuluhan.
Oleh Van den Ban dan Hawkins, (2011: 28) penyuluhan secara sistematis dapat didefinisikan sebagai proses yang:

1. membantu menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan;
2. membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut;
3. meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani;
4. membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan;
5. membantu petani memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal;
6. meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya; dan
7. membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan.

   Dengan melihat rangkaian proses ini, untuk keberhasilannya tidak menjadi tanggung jawab penyuluh pertanian sepenuhnya, tapi juga peran aktif dari petani. Agar semua proses berjalan dengan lancar tanpa hambatan, komunikasi amat berperan dalam menghubungkan penyuluh dengan petani.
   Sistem penyuluhan pertanian seperti yang tertera dalam UU RI No. 16 tahun 2006 merupakan seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan serta sikap pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) dan pelaku usaha melalui penyuluhan. Disebutkan pula bahwa Penyuluhan Pertanian adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengertian tersebut mengandung makna bahwa di dalam proses pembelajaran terjadi proses-proses lain yang terjadi secara simultan, yaitu:
a. Proses komunikasi persuasive, yang dilakukan oleh penyuluh dalam memfasilitasi sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha) beserta keluarganya guna membantu mencari pemecahan masalah berkaitan dengan dan pengembangan usaha mereka. Proses pemberdayaan, maknanya adalah memberikan kuasa dan wewenang kepada pelaku utama dan pelaku usaha sehingga setiap orang pelaku utama dan pelaku usaha (laki-laki dan perempuan) mempunyai kesempatan yang sama untuk : a) Berpartisipasi; b) Mengakses teknologi, sumberdaya, pasar dan modal; c) Melakukan kontrol terhadap setiap pengambilan keputusan, dan d) Memperoleh manfaat dalam setiap lini proses dan hasi pembangunan pertanian.
b. Proses pertukaran informasi timbal balik antara penyuluh dan sasaran mengenai berbagai alternatif yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengembangan usahanya.

PERAN KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN
Ditinjau dari prosesnya, penyuluhan adalah komunikasi dalam arti kata ada dua komponen yaitu manusia, yang satu sebagai pemberi pesan atau komunikator dan satu lagi sebagai penerima pesan atau komunikan. Dalam proses ini penyuluh pertanian bertindak sebagai komunikator (pemberi pesan), sedangkan petani merupakan komunikan (penerima pesan). Perbedaan antara komunikasi dengan penyuluhan terletak pada tujuannya, dimana tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan penyuluhan sifatnya khusus, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Tujuan akan tercapai bila terjadi komunikasi yang dapat dipahami. Komunikasi yang bagaimana yang menunjang tujuan penyuluhan mudah tercapai? Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang bersifat dua arah.

   Namun bisa saja terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi, dimana pesan tidak dapat dimengerti oleh penerima pesan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor penghambat komunikasi antara pengirim dan penerima pesan. Faktor-faktor penghambat komunikasi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat masalah utama , dikemukakan oleh Purwanto, Djoko (2009: 13), mencakup : 1) masalah dalam mengembangkan pesan; 2) masalah dalam penyampaian pesan; 3) masalah dalam menerima pesan; 4) masalah dalam menafsirkan pesan.
   Menghindari ini semua, dalam penyuluhan pertanian perlu dilakukan perencanaan terlebih dahulu, sehingga proses penyuluhan pertanian untuk membantu petani mencapai tujuannya dapat terlaksana dengan baik, dengan menghilangkan faktor penghambat yang kemungkinan besar dapat terjadi dalam komunikasi. Tampak peran komunikasi amat besar dalam kegiatan penyuluhan penyuluhan, yang akan mempengaruhi dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasinya.
   Penyuluh sebagai komunikator yaitu penyampai pesan, sedangkan sasaran dalam hal ini disebut komunikan sangat yang dipengaruhi oleh latar belakangnya, baik secara individu maupun secara berkelompok. Untuk penyuluh sendiri adakah mereka siap melakukan komunikasi dari berbagi aspek, apakah pesan yang dibawanya sudah sesuai dengan apa yang diinginkan sasaran juga saluran atau media yang dilakukannya sudah sesuai?, sudah tepatkah metode yang digunakannya. Namun unsur yang paling utama dalam melakukan perubahan perilaku ini yaitu terjadinya komunikasi yang baik antara si pemberi pesan yaitu penyuluh, dengan si penerima pesan yaitu orang yang diharapkan perubahan perilakunya. Dalam sektor pertanian, apakah bagaimana pelaksanaan penyuluhan pertanian di tingkat lapangan, sudah berjalan lancar, dan sudahkah mencapai tujuan yang diharapkan?
   Fenomena di tingkat lapangan menggambarkan masih lemahnya proses penyuluhan pertanian dengan dampak yang ada, disinyalir salah satu penyebabnya adalah hambatan komunikasi. Sebab dalam proses komunikasi tidak hanya sekedar berbicara saja, tapi pesan itu dapat disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hambatan komunikasi ini perlu ditelaah, apa yang menjadi penyebabnya. Bila perubahan perilaku sebagai bagian dari tujuan penyuluhan belum tercapai, jangan hanya sasaran yang dipersalahkan. jangan-jangan masalah nya justru berasal dari komunikator yaitu penyuluh sebagai pembawa pesan. Apa penyebabya apakah karena ketidaksiapan materi yang akan disampaikan, ataukah karena prasarana yang tidak memadai, bisa pula terjadi karena gangguan dalam proses penyampaiannya. Kegagalan berkomunikasi sering menimbulkan kesalah pahaman, kerugian, dan bahkan malapetaka, Risiko tersebut tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat lembaga, komunitas, dan bahkan Negara. Untuk menjadi seorang komunikator yang efektif, harus berusaha menampilkan komunikasi (baik verbal maupun nonverbal) yang disengaja seraya memahami budaya orang lain















DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar,Ilmu Komunikasi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Alvin Goldberg dan Carl Larson . 2006. Komunikasi Kelompok. Penerbit Universitas ndonesia, Jakarta.
Jalaludin Rakhmat, 2005, PsikologiPT Remaja RosdakaryBandung
Ludlow, Ron & Panton, Fergus,Komunikasi Efektif. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Onong Uchyana Effendy, 1995, Ilmu Komunikasi (teori dan praktek), Penerbit PT Remaja, Bandung
Purwanto, Djoko,Komunikasi Bisnis. Penerbit Erlangga, Jakarta
Tarya D. Sugarda, Sudarmanto & Samedi Sumintaredja, Penyuluhan Pertanian, 2001, Yayasan Pengembangan Sinar Tani
Van den Ban & Hawkins, Penyuluhan Pertanian, 2009, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

PERAN SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI BAGI MASYARAKAT DESA DALAM MENGHADAPI MEA

Nama Kelompok/NIM :
Krosita Galuh Kartika M     201310210311022
Istifarin Yulia                      201310210311037


     Masyarakat pedesaan di Indonesia tergolong masyarakat yang sangat jauh tertinggal, hal ini disebabkan keberedaan wilayah yang jauh dari pusat pembangunan Nasional, bahkan hampir tidak tersentuh oleh pembangunan Nasional. Desa sebagai wilayah kesatuan hukum yang berkedudukan di wilayah NKRI tentunya tidak lepas dari obyek persaingan pasar bebas, bukan saja terhadap kualitas produk/barang yang dihasilkan desa, tetapi sumber daya manusia sebagai pengelola sumber daya alam, budaya dan modal social lainnya tentunya akan di hadapkan pada persaingan ekonomi. Adanya tantangan tersendiri bagi masyarakat desa agar dapat ikut berpartisipasi terhadap MEA. Mereka harus mampu bersaing di tengah lalu lintas perdagangan baik barang maupun jasa yang pelaku perdagangannya sudah bukan dalam negeri, tetapi terdiri dari orang-orang dalam negeri maupun luar negeri yang berasa di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia tentunya harus mempunyai potensi agar dapat bertahan dan menjadi pelaku utama di era MEA nantinya. Agar dapat berpartisipasi dan menjadi pelaku utama tentunya juga membutuhkan hard skill dan soft skill. Selain dari skill masyarakat Indonesia juga harus menguasai bahasa asing terutama bahasa inggris yang menjadi bahasa utama yang digunakan para anggota yang mengikuti MEA.
     MEA sendiri telah disiapkan seluruh anggota ASEAN yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN dan membentuk kawasan ekonomi antar Negara ASEAN yang kuat. Seharusnya Indonesia ikut berpartisipasi bahkan menjadi pelaku utama mengingat sumber daya alam yang berada di Indonesia sangat berpotensi. Dimana jika dikelola dengan sangat baik maka Indonesia pastinya banyak melakukan ekspor berbagai macam komoditi, dilihat dari sector kelautan dan pertanian.
Masyarakat desa harus mulai membangun potensi yang ada di desa tersebut. Karena sangat banyak potensi yang dimiliki masyarakat desa jika digali lagi dan di tunjang dengan adanya fasilitas dari pemerintah. Memang keadaan yang seperti ini pemerintah harus ikut andil terlebih kepada masyarakat desa yang masih belum banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Perhatian khusus dari pemerintah seperti hal nya fasilitas dan teknologi yang canggih, selain itu pemerintah juga memperhatikan pendidikan masyarakat desa tersebut. Karena jika diberikan fasilitas yang modern dan teknologi yang canggih tanpa ditunjang dengan pendidikan yang tinggi juga tidak akan membuahkan hasil. Pendidikan terutama sangat berpengaruh terhadap banyak aspek. Sebenarnya tantangan masyarakat desa terhadap MEA ialah pendidikan tersebut. Kebanyakan masyarakat desa mengenyam pendidikan sampai lulus SD ataupun lulus SMP padahal untuk menghadapi MEA tersebut juga harus di tunjang dengan pendidikan yang tinggi agar mampu bersaing dan menggali potensi yang ada dengan bijak. Apabila pendidikan masyarakat desa sudah sangat baik, barulah pemerintah memberikan fasilitas dan teknologi yang canggih. Jika kebanyakan masyarakat desa berkecimpung di bidang pertanian, maka sebaiknya pemerintah memfasilitasi teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil produksi di bidang pertanian. Hasil pertanian meningkat maka Indonesia dapat mengekspornya ke luar negeri sehingga Indonesia menjadi Negara yang mandiri tidak lagi bergantung pada impor. Dengan begitu masyarakat desa dapat bersaing di era MEA nantinya.
    Sistem Informasi Desa sudah saatnya dibangun untuk memudahkan masyarakat desa mengakses pengetahuan-pengetahuan seputar MEA, sehingga masyarakat desa tersebut tidak ketinggalan mengenai informasi tersebut. Selain itu masyarakat desa agar lebih mengetahui apa itu MEA dan bagaimana untuk meghadapinya. Bukan malah menakutinya atau bahkan menghindarinya. Tantangan pembangunan nasional berbasis desa dan daerah pinggiran saat ini antara lain adalah ketersediaan data dan informasi geospasial yang memadai, baik cakupan ketersediaan maupun tingkat kedetilan yang masih sangat terbatas. Sistem informas desa ini dapat menghubungkan desa satu dengan yang lain, dan saling berbagi informasi sehingga saling membantu antar desa satu dengan yang lain dalam hal menghadapi MEA tersebut
     Menurut pasal 86 undang – undang No.6 tahun 2014 yaitu
  1. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi yang dikembangkan oleh pemerintah daerah kabupaten /kota.
  2. Pemerintah dan pemerintah Daerah wajib mengembangkan sistem informasi desa dan pembangunan kawasan perdesaan.
  3. Sistem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia
  4. Sistem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 meliputi data desa, data pembangunan desa, kawasan desa, serta informasi lain yang berkaitan dengan pembangunan desa dan pembangunan kawasan perdesaan
  5. Sitem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dikelola oleh pemerintah desa dan dapat diakses oleh masyarakat desa dan semua pemangku kepentingan
  6. Pemerintah daerah kabupaten/kota menyediakan informasi perencanaan pembangunan kabupaten/kota untuk desa
      Dengan disusunnya undang-undang mengenai sistem informasi desa tersebut maka pemerintah juga mengharapkan desa-desa atau daerah tertentu mengalami kemajuan, bahkan jika pemerintah tidak dapat memantau langsung turun lapang, pemerintah dapat memantau melalui sistem informasi yang telah dibentuk oleh setiap desa sehingga pemerintah dapat menentukan arah pembangunan di setiap desa yang memang memerlukan adanya pembangunan, sehingga tidak ada lagi desa-desa yang tertinggal.
      Berdasarkan pembahasan diatas sistem informasi memilik peranan yang sangat penting dalam pembangunan desa. Minimnya pemahaman masyarakat mengenai teknologi akibat rendahnya SDM masyarakat Desa sehingga pengembangan sistem informasi di Desa tersebut masih sangat kurang. Permasalahan juga terjadi ketika masyarakat desa juga ikut serta dalam MEA, sistem informasi akan dapat memudahkan memecahkan permasalahan masyarakat dan pembangunan desa juga akan ikut terlaksana. Melihat karakteristik perdesaan dengan kultur agrarisnya, keperluan masyarakat terhadap berbagai informasi pembangunan sebenarnya sangat tinggi. Namun media informasi yang ada, sekarang ini belum bisa memenuhi keperluan informasi masyarakat desa. Apalagi kawasan perdesaan sebagian besar jauh dari pusat pemerintahan yang notabene juga pusat informasi dan perekonomian. Sehingga tidak heran kalau selama ini desa tidak hanya termarjinal dari akses ekonomi tetapi juga akses informasi.

DAFTAR PUSTAKA
    Sutardjo, 2015, http://www.kompasiana.com/sutardjo/tantangan-desa-menuju-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015_54f42ff77455139e2b6c87fc, (Online), diakses pada 3 Juni 2016 pukul 18.00 WIB.
    Mitra Turatea, 2015, https://mitraturatea.wordpress.com/category/sistem-informasi-dan-administrasi-desa/, (online), diakses pada 3 Juni 2016 pukul 18.00 WIB.










PERAN KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Nama : Kholidah Farah
Nim    : 201310210311120   
Kelas  : Agribisnis VI


Salah satu aspek penting dalam pembangunan pertanian di daerah pedesaan adalah kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan bagi kepentingan penduduk yang jumlahnya senantiasa meningkat. Hal ini berlaku mutlak bagi negara-negara sedang berkembang agar mereka dapat melaksanakanswasembada pangan. Salah satu ciri dari pertanian di Indonesia adalah pemilikan lahan pertanian yang sempit, sehingga dengan demikian pengusaha pertanian di Indonesia dicirikan oleh banyaknya rumah tangga tani yang berusahatani dalam skala kecil. Akibatnya, para petani di Indonesia sebahagian terdiri dari petani-petani kecil dengan ciri dan karakteristik umum sebagai berikut: (a) petani yang memiliki luas lahan sempit, yaitu: luasan lahan sawah: < 0,25 ha (Jawa) dan < 0,50 ha (Luar Jawa) dan luasan lahan tegal: 0,50 ha (Jawa) dan 1,00 ha (Luar Jawa); (b) petani yang memiliki produksi pangan rendah, yaitu < 240 kg beras/kapita/ tahun; (c) petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas; dan (4) petani yang memiliki pengetahuan yang terbatas dan kurang kurang dinamis.
Pada umumnya, keadaan petani kecil di negara-negara berkembang adalah beragam namun tetap pada batas-batas penguasaan sumberdaya yang terbatas. Petani kecil seperti ini sering melakukan usahataninya dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang semakin lama semakin meningkat. Sebagai akibat sumber-sumber yang dimiliki petani sangat terbatas, maka tingkat kehidupannya juga serba “pas-pasan” bila tidak ada bantuan dari sumber lain di luar bidang pertanian. Akibatnya, seringkali ditemukan bahwa dalam penguasaan lahan pertanian yang terbatas dari petani, maka komoditi pertanian yang diusahakan adalah komoditi untuk keperluan konsumsi sehari-hari.
Ciri usahatani petani kecil demikian sering disebut petani subsisten. Dalam banyak kenyataan di negara-negara berkembang, seringkali peranan petani kecil ini dilupakan, sehingga mereka sering pula terlupakan untuk mendapatkan pelayanan, apakah itu pelayanan dalam bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Akibatnya, mereka sering kurang responsif terhadap pengenalan teknologi baru, atau kurang mau melakukan usahatani yang sifatnya mempunyai resiko (dan ketidakpastian) yang tinggi.
Dalam kaitan dengan komunikasi pertanian, maka upaya yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana melakukan komunikasi dengan petani-petani kecil dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, agar pesan yang disampaikan melalui komunikasi pertanian dapat diserap dan selanjutnya diterapkan dalam usahatani mereka. Dalam metode penyuluhan pertanian, pengertian diterapkan dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) bagaimana petani kecil dapat bertani atau berusahatani dengan cara yang lebih baik, misalnya cara bercocoktanam, cara memelihara kesuburan tanah, cara memperlakukan teknologi lepas panen, dan sebagainya; (b) bagaimana petani kecil mampu dan mau berusahatani secara menguntungkan, baik dalam usahatani secara monokultur ataupun secara tumpangsari; dan (c) bagaimana petani kecil mampu meningkatkan kesejahteraannya atau bagaimana mereka dapat hidup sejahtera.
Dengan demikian, peranan komunikasi pertanian terhadap kehidupan petani kecil di Indonesia adalah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup petani dan keluarganya. Dalam proses komunikasi pertanian sendiri bukan saja dilakukan melalui cara satu arah (one-way traffic), tetapi juga dua arah (two-way traffic), yang tentu perlu diperhatikan aspek lingkungan atau sistem sosial yang ada disekelilingnya. Berhubung karena sistem pertanian di Indonesia dicirikan oleh adanya banyak petani kecil, maka komunikasi pertanian sangat bermanfaat kalau diperhatikan kelompok sasaran petani kecil ini. Perlu diingat bahwa ciri petani kecil ini sangat kondisional di mana kehidupan petani kecil yang tinggal di satu daerah tentu berbeda dengan petani kecil lain yang tinggal di daerah lain, sehingga pelaksanaan pemberian pesan dari komunikator dalam melaksanakan komunikasi pertanian, perlu pula diperhatikan lingkungan seperti ini.
  • Metode Pendekatan
Dalam melakukan komunikasi pertanian kepada masyarakat telah dikenal dua metode pendekatan, yaitu: (1) pendekatan berdasarkan kelompok sasaran dari inovasi, dan (2) pendekatan berbasarkan cara penyampaian isi pesan yang terkandung dalam inovasi tersebut. Kedua metode pendekatan ini akan dibahas secara terpisah.
  • Metode Pendekatan Sasaran
Berdasarkan kelompok sasaran, maka metode pendekatan komunikasi ini dapat dilakukan melalui:
  • Metode pendekatan massa (mass approach method)
  • Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan awal serta kesadaran bagi petani tentang suatu inovasi yang berguna dalam meningkatkan hasil produksi usahatani mereka. Penyampaian pesan melalui cara ini biasanya disampaikan dalam pertemuan massal, melalui media massa: televisi, koran, film dan sebagainya. Pendekatan ini kurang efektif bagi petani-petani di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya, karena beberapa faktor berikut:
  1. tidak bisa dipantau ataupun dievaluasi secara pasti keberhasilan yang telah dicapai oleh para petani
  2. wilayah jangkauan pendekatan sasaran terlalu luas
  3. rendahnya daya tangkap masyarakat petani, karena mereka rata-rata berpendidikan sangat rendah; dan
  4. harga beberapa media yang digunakan seperti televisi dan koran sangat sulit dijangkau oleh tingkat ekonomi para petani.

  • Metode pendekatan kelompok (group approach method)
Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan melalui penyampaian informasi inovasi kepada petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok petani, baik kelompok-kelompok petani tradisional, seperti Subak di Bali dan kelompok-kelompok petani yang sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti kelompnecapir di TVRI, Kelompok Tani dan Nelayan, Kelompok Swadaya Masyarakat, dan sebagainya. Dalam kegiatan komunikasi penyuluhan pertanian di Indonesia, pendekatan kelompok sudah menjadi metode dalam pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia di desa maupun di kota dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Dipandang dari segi komunikasi informasi, maka pendekatan kelompok ini jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan massa, karena mempunyai beberapa keuntungan, sebagai berikut: (a) penyebaran inovasi teknologi dapat dipantau atau dievaluasi secara baik karena jumlah anggota sasarannya jelas; (b) d antara anggota kelompok yang satu dengan yang lainnya dapat saling memberi dan menerima informasi, terutama tentang hal-hal yang belum jelas; (c) akan terjadi akumulasi modal (fisik maupun non-fisik) sehingga dapat memperlancar jalannya komunikasi dalam kelompok yang bersangkutan; (d) antara anggota kelompok dapat dilakukan reward and punishment systemsecara efektif dan efisien; dan (e) lebih menghemat biaya, tenaga dan waktu, tetap akan diperoleh hasil yang jauh lebih baik.


Sebaliknya, pendekatan kelompok juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagai berikut:
  1. jika manajemen kelompok kurang baik, maka akan terjadi penyimpangan, baik penyimpangan penyebaran informasi maupun penyimpangan pembagian keuntungan dari suatu inovasi
  2. komunikasi akan tidak efektif jika jenis usaha anggota kelompok beragam; dan
  3. kemungkinan akan muncul kaum elit tertentu dalam kelompok apabila tidak diarahkan secara baik sehingga akan menghambat kehidupan berdemokrasi kelompok; dan
  4. rendahnya keterampilan para petani dalam kehidupan kelompok/berorganisasi.
  • Metode pendekatan individu (personal approach method)
Cara pendekatan ini dilakukan dengan cara mengunjungi para petani satu per satu, baik ke rumah petani maupun di kebun petani ataupun tempat-tempat tertentu yang memungkinkan untuk dilakukan komunikasi inovasi. Keuntungan-keuntung an dari metode pendekatan perorangan, antara lain: (a) petani yang dikunjungi seorang petugas merasa dihargai oleh petugas yang melakukan komunikasi pertanian; (b) meningkatkan kepercayaan diri petani karena komunikasi ini dapat dilakukan dari hati ke hati; (c) petani dapat menyampaikan segala macam keluhan/masukan- masukan bagi petugas/penyuluh tanpa merasa canggung dan malu dengan sesama teman petani; (d) petugas/penyuluh dapat menggali semua masalah serta kebutuhan maupun hambatan-hambatan yang dihadapi petani selama berusahatani; dan (e) petugas/penyuluh dapat memberikan informasi yang cocok dengan kebutuhan serta masalah petani pada saat itu. Sebaliknya, metode pendekatan ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: (a) tidak bisa menjangkau petani dalam jumlah yang banyak; (b) memakan waktu yang lama; (c) membutuhkan biaya yang tinggi; dan (d) membutuhkan banyak tenaga petugas/penyuluh.
  • Metode Pendekatan Materi
Berdasarkan cara penyajian inovasi dalam rangka lebih menjamin efektivitas hasil komunikasi (khususnya dalam pertemuan kelompok), maka digunakan pendekatan gabungan berikut: (a) ceramah, diskusi dan tanya jawab; (b) demonstrasi cara dan demonstrasi hasil; dan (c) penggunaan alat bantuflipchart dan folder. Penggunaan metode gabungan ini cukup efektif, baik dalam mewujudkan komunikasi dua arah (two-way traffic communication) maupun peningkatan pemahaman serta kemampuan menerapkan inovasi yang diberikan. Dengan demikian, para petani akan lebih memahami dan mengerti tentang cara-cara menerapkan inovasi dalam praktek usahatani mereka.

STRATEGI KOMUNIKASI MEMBANGUN KEMANDIRIAN PANGAN

OKTA SUSTININGSIH / 202310210311113 / AGRI VI A
Peran komunikasi pembangunan pertanian makin penting dalam mewujudkan swasembada pangan dan diversifikasi pangan sebagai landasan terciptanya kemandirian pangan dan ketahanan pangan yang andal. Kemandirian pangan hanya dapat terwujud jika pembangunan dilaksanakan atas prakarsa masyarakat sebagai bentuk kesadaran untuk membangun usaha tani modern dengan didukung strategi komunikasi yang efektif dan efisien. Adopsi inovasi teknologi akan meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, menekan susut, meningkatkan nilai tambah dengan pendekatan pemberdayaan dan partisipasi petani serta memperkokoh kelembagaan dan daya saing. Dalam pemberdayaan petani, pengembangan koperasi agribisnis komoditas tunggal seperti koperasi agribisnis padi atau jagung akan mempermudah transformasi informasi paket teknologi dan manajemen usaha tani dari berbagai sumber ke petani. Untuk membangun kemandirian pangan berbasis produksi lokal dan diversifikasi pangan dengan dukungan sistem komunikasi yang efektif diperlukan kebijakan pemerintah dengan mengembangkan pusat-pusat informasi pertanian pada sentra produksi sebagai kawasan pengembangan agribisnis (KPA).
Sistem informasi komunikasi berbasis koperasi dan modal sosial dengan pendekatan kemitraan dari semua stakeholders (pemerintah,pengusaha, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga sosial kemasyarakatan dan sebagainya) akan mempercepat terwujudnya kemandirian pangan daerah.
Kemandirian Pangan
Kebijakan yang berkaitan dengan keman dirian pangan telah mewarnai kebijakan pemerintah di bidang pertanian dan pangan sejak tahun 1970-an dan menjadi
sorotan sejak Kongres XI Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) dan Kongres Asian Society of Agri cultural Economist (ASAE)
di Bali padatahun 1986. Perhatian pemerintah terhadap kemandirian pangan yang makin besar ditandai antara lain dengan tema Hari Pangan seduunia tahun 2006 yaitu
Membangun Kemandirian Pangan Berbasis Pedesaan, mengiringi tema Hari Pangan Dunia yakni Investing in Agriculture for Food Security . Kemandirian pangan dapat ditelaah melalui empat aspek, yaitu kebijakan pangan nasional, swasembada beras, ketergantungan pangan impor, dan pemberdayaan petani (Suryana 2008).
Kebijakan Pangan Nasional
Jumlah penduduk dunia yang bertambah sekitar 30 - 75 juta/tahun pada tahun 2000 - 2030, diperkirakan akan membutuhkan tambahan serealia 1 miliar ton per tahun pada 2030, atau meningkat 59% dibandingkan dengan produksi serealia tahun 2000 (Nainggolan 2007). Untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri perlu dioptimalkan kinerja sistem ekonomi pangan, yang meliputi subsistem produksi, distribusi, dan konsumsi. Ketiga subsistem tersebut merupakan satu kesatuan dan saling berinteraksi secara berkesinambungan dengan didukung oleh input sumber daya alam, kelembagaan, budaya, dan teknologi. Proses ini akan berjalan efisien jika didukung oleh partisipasi masyarakat dan sistem informasi komunikasi pertanian yang efektif.
Swasembada Beras
Pemenuhan kebutuhan pangan nasional terutama beras telah menjadi perhatian
pemerintah sejak tahun 1950 dengan digulirkannya program Rencana Kesejahteraan Istimewa. Program tersebut diikuti dengan gerakan massal pada tahun 1960-an dengan memperkenalkan GerakanSwasembada Beras (SSB). Gerakan SSB dilaksanakan hingga tahun 1963 dilanjutkan dengan program Swasembada Bahan Makanan (SSBM) dan Bimbingan Massal (Bimas) atas dasar hasil penelitian Institut Pertanian Bogor di Karawang,Jawa Barat (Adjid 1998).
Ketergantungan Pangan Impor
Pusat Data dan Informasi Pertanian (2007) melaporkan, produktivitas rata-rata padi nasional masih rendah yakni 4,62 t/ha. Sementara itu, impor bahan pangan lainnya, terutama gandum makin meningkat, dari 3,52 juta ton pada tahun 2003 menjadi 4,49 juta ton pada tahun 2006. Kecenderungan peningkatan impor bahan pangan nonberas menunjukkan kondisi ketidakmandirian pangan nasional atau ketahanan pangan makin bergantung pada bahan pangan impor.


DAPUS
Rangkuti  Parlaungan A, 2009, STRATEGI KOMUNIKASI MEMBANGUN
KEMANDIRIAN PANGAN, Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 2009, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor.





Pidato Desi

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,
Yang terhormat bapak harpowo
Yang terhormat teman-teman sekalian
Pertama- tama marilah kita panjatkanpuji syukur kepada  tuhan yang maha esa karena berkat rahmat dan hidayahnya  kita bisa berkumpul pada pagi hari ini tak lupa
Sholawat serta salam marilah kita haturkan pada beliau junjungan kita nabi besar nabi Muhammad SAW ,karena berkatnyalah kita bisa berada dijalan yang benar.
Pada kesempatan kali ini saya akan berpidato tentang masa depan pertanian Indonesia
Negara kita negara indonesia adalah negara agraris yang kaya dengan tanah yang subur,bahkan dikatakan dalam syair koesplos tanah kita adalah tanah syurga tongkat kayu dan batu jadi tanaman,sehingga orang orang eropa dan jepang sampai berbondong-bondong untuk menjajah   dan mengambil pertanian kita karena mereka terpesona dengan kemakmuran negri kita dan mereka ingin menguasai pertanian kita itulah bukti ke suburan tanah kita.
Tetapi saat ini kita seakan kaget dengan isu yang terus menjadi perbincangan yaitu kita tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan kita sehingga kita harus impor dan bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan kita,apa sebenarnya yang terjadi pada negara kita,dulu negara kita begitu ditakuti oleh negara lain kita bangga dengan pertanian kita,tetapi mengapa sekarang kita seperti kehilangan identitas bahwa kita adalah negara agraris.
Saat ini kita bergantung kepada negara-negara pengekspor bahan pangan untuk memenuhi kekurangan negara kita,dan jika ini dibiarkan berlarut-larut,kita semakin lama semakin bergantung kepada negara lain ,misalnya thailan,maka bayangkan apabila mereka mempunyai masalah dan tidak mau mengekspor kepada negara kita ,maka negra kita akan menjadi negara yang  kekurangan bahan pangan dan ini akan menimbulkan banyak masalah,,termasuk labil ekonomi dan kudeta hati.
sekarang ini banyak petani-petani yang miskin baik di desa maupun dikota ,dan kata petani itu sangat identik dengan kata bodoh,kotor dan miskin karena kita lihat dilapangan memang kebanyakan petani itu adalah mereka yang lulusan sd dan smp mereka yang sangat jauh dari iptek mereka yang bodoh dll.
Kita para generasi muda penerus bangsa merasa malu dan malas untuk menggeluti dunia pertanian karena menganggap dunia pertanian adalah dunia yang tidak menjanjikan, jarang sekali kita lihat mereka-mereka yang berpendidikan  tamat SMA enggan untuk bertani atau kuliah dijurusan pertanian bahkan yang lulusan sarjana pertanian pun sangat sedikit yang tertarik untuk memajukan pertanian itu sendiri
  Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan mohon maaf bila ada salah kata
            Assalamu’alaikum ww.



PIDATO PERTANIAN ORGANIK

             JUMIATI/201310210311112/AGRIBISNIS VIA                     
PIDATO PERTANIAN ORGANIK
Assalamu’alaikum wr.wb ....Selamat pagi semua, salam sejahtera buat kita semua. Puji Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkatNya kita dapat berkumpul pada hari ini dalam keadaan yang sehat dan tak kurang apapun, pada saat ini saya berdiri di sini akan menyampaikan hal – hal yang berkaitan dengan Pertanian Organik itu, Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis,shingga pertanian organik ini mampu menjaga kelestarian lingkungan kita.
Pertanian organic sendiri tidak lah sulit dan tidak juga terlalu mahal,karena pertanian organik ini dapat menggunakan sisa-sisa produksi pertanian. Pertanian organik juga mampu mengendalikan kesuburan tanah karena tidak menggunakan bahan kimia. Banyak sekali sekarang yang menggunakan pupuk Anorganik yang berimbas terhadap harga pupuk yang mahal sehingga petani harus mengocek dompet terlalu dalam untuk memenuhinya. Apabila petani mampu menggunakan system pertanian organik  ini, bukan hal yang mustahil apabila petani dapat meraup untung yang lebih.
Pertanian Organik ini sangat identik dengan pertanian berkelanjutan, karena system pertanian organic ini bertujuan untuk menjaga kelestarian suatu ekologi serta kesehatan makhluk hidup ke depannya. Kita sudah begitu tahu dengan banyak perusahaan pertanian yang terlalu berpangku tangan terhadap kemajuan teknologi yang berimbas terancamnya kesehatan dan kelestarian lingkungan dengan limbah pertanian yang tidak baik. Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan.Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan.
Kita sebagai mahasiswa masih mempunyai semangat yang tinggi,oleh karena itu Pertanian organic ini selain mampu menjaga kelestarian, dapat juga dijadikan dalam dunia bisnis,sehingga pertanian itu tidak berkutit pada inovasi tegnologi mekanis saja tetapi inovasi tegnologi bidang ilmiah. Saudara- saudara sekalian kita tahu juga banyak sarjana Pertanian yang lari dari bidangnya karena dalam main set nya bahwa pertanian kita ini bobrok dan tidak berkembang dari tahun ke tahun, untuk itu kita sebagai penerus ini mampu menciptakan sesuatu yang baru dan baik di dunia pertanian,mungkin salah satunya dengan mengembangkan pertanian organik ini.
Banyak juga generasi kita ini yang masih peduli terhadap pertanian ini. Harapan saya khelak dengan generasi muda-mudi pertanian ini dapat menyongsong hari esok dengan baik, seperti Pertanian Organik yang mampu menjaga kelestarian suatu ekologi untuk mensejahterakan kehidupan kita bukan hanya para petani kita sekarang,yang berimbas petani semakin sengsara pengusaha yang tidak bertanggung jawab merajalela.
            Mungkin demikian yang dapat saya sampaikan, apabila ada salah-salah kata dan perilaku mohon dimaafkan dan dimaklumi.,kesempurnaan hanya milik Allah semata, saya ucapkan terima kasih atas perhatian saudara-saudara sekalian dalm menyimak pidato saya.
Tegnologi Tetap maju,Pertanian nomor satu