Jumat, 03 Juni 2016

PERTANIAN MODERN

NAMA    : ACHMAD ANGSORUDIN
NIM        : 201310210311006

Pertanian Modern
Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan eketernal berupa bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida), menimbulkan kekhawatiran berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sedangkan pertanian tradisional yang bertumpu pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal menimbulkan kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian, jauh di bawah kebutuhan manusia. Kedua hal ini yang dilematis dan hal ini telah membawa manusia kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan penggunaan masukan dari luar sistem pertanian itu, namun tidak mebahayakan kehidupan manusia dan lingkungannya (Mugnisjah, 2001). Pertanian modern dikhawatirkan memberikan dampak pencemaran sehingga membahayakan kelestarian lingkungan, hal ini dipandang sebagai suatu krisis pertanian modern.
Sebagai alternatif penanggulangan krisis pertanian modern adalah penerapan pertanian organik. Kegunaan budidaya organik menurut Sutanto (2002) adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi. Pemanfaatan pupuk organik mempunyai keunggulan nyata dibanding dengan pupuk kimia. Pupuk organik dengan sendirinya merupakan keluaran setiap budidaya pertanian, sehingga merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan cuma-cuma. Pupuk organik berdaya amliorasi ganda dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus menkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan demikian penerapan sistem pertanian organik pada gilirannya akan menciptakan pertanian yang berkelanjutan..
Dunia pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas. Keberhasilan diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan. Semakin banyak, semakin dianggap maju. Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia merupakan bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk memacu hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern, yang dimulai sejak tahun 1970-an.
Gebrakan revolusi hijau di Indonesia memang terlihat pada dekade 1980-an. Saat itu, pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan pemakaian bibit impor, pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainnya. Hasilnya, Indonesia sempat menikmati swasembada beras. Namun pada dekade 1990-an, petani mulai kelimpungan menghadapi serangan hama, kesuburan tanah merosot, ketergantungan pemakaian pupuk yang semakin meningkat dan pestisida tidak manjur lagi, dan harga gabah dikontrol pemerintah. Revolusi Hijau bahkan telah mengubah secara drastis hakekat petani. Dalam sejarah peradaban manusia, petani bekerja mengembangkan budaya tanam dengan memanfaatkan potensi alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Petani merupakan komunitas mandiri.
Nenek moyang memanfaatkan pupuk hijau dan kandang untuk menjaga kesuburan tanah, membiakkan benih sendiri, menjaga keseimbangan alam hayati dengan larangan adat. Mereka mempunyai sistem organisasi sosial yang sangat menjaga keselarasan, seperti organisasi Subak di Bali dan Lumbung Desa di pedesaan Jawa.
Dengan pertanian modern, petani justru tidak mandiri Padahal, FAO (lembaga pangan PBB), telah menegaskan Hak-Hak Petani (Farmer‘s Rights) sebagai penghargaan bagi petani atas sumbangan mereka. Hak-hak Petani merupakan pengakuan terhadap petani sebagai pelestari, pemulia, dan penyedia sumber genetik tanaman.
Hak-hak petani dalam deklarasi tersebut mencakup: hak atas tanah, hak untuk memiliki, melestarikan dan mengembangkan sumber keragaman hayati, hak untuk memperoleh makanan yang aman, hak untuk mendapatkan keadilan harga dan dorongan untuk bertani secara berkelanjutan, hak memperoleh informasi yang benar, hak untuk melestarikan, memuliakan, mengembangkan, saling tukar-menukar dan menjual benih serta tanaman, serta hak untuk memperoleh benihnya kembali secara aman yang kini tersimpan pada bank-bank benih internasional (Wacana, edisi 18, Juli-Agustus 1999).
Apa yang dikembangkan oleh para ilmuwan telah membedakan mana yang maju dan terbelakang, modern dan tradisional, serta efisien dan tidak efisien. Sedangkan buktinya, sistem pertanian yang disebut sebagai yang terbelakang, tradisional dan tidak efisien itu ternyata lebih bersifat ekologis, tidak merusak alam.



PENYULUHAN : SISTEM TANAM PADI LEGOWO DUA

Fifitria Monica

Padi atau beras merupakan bahan makanan pokok sebagaian besar penduduk Indonesia, pada akhir – akhir ini ini cenderung makin sulit diandalkan keberlangsungannya. Swasebada yang menjadi landasan pembangunan Nasional juga semakin rapuh. Peningkatan produksi padi atau beras dari tahun ke tahun belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Diperlukan terobosn teknologi atau teknologi alternatif agar produksi dan produktivitas padi meningkat dan pendapatan petani meningkat pula. Salah satu teknologi yang dianjurkan adalah Sitem tanam Padi Legowo.

Tujuan pengembangan teknologi :
Memberikan alternatif teknologi cara tanam padi yang efisien pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan.

Kemampuan/keunggulan :
Produksi dari cara tanam legowo dua baris lebih tinggi dibandingkan dengan cara anam biasa (7,1 t/ha vs 5,7 t/ha). Hal ini disebabkan seluruh barisan padi menerima cahaya matahari yang relatif sama seperti halnya tanaman pinggiran. Pengendalian hama terutama wereng coklat, ulat grayak, lembing batu dan hama lain yang berada di pangkal batang   lebih   efektif  Tanaman  padi  lebih  terbuka,  sehingga  sinar m atahari  sampai ke permukaan tanah dan pangkal batang, sehingga dapat mengurangi serangan penyakit batang. Umur padi lebih genjah 5-10 hari dibandingkan dengan umur padi dengan tanam cara tegel. Penggunaan pupuk lebih efisien Populasi (jumlah) rumpun tanaman lebih banyak dibandingkan dengan cara tanam biasa.  Cocok untuk daerah endemik serangan hama seperti Wereng Batang Coklat (WBC), Wereng Hijau dan Penyakit busuk batang (terutama hama dan penyakit yang menyerang pangkal batang).
Cara tanam legowo :
Cara tanam legowo memberikan alternatif teknologi cara tanam padi yang efisien pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan yang ditujukan untuk meperbaiki  produktifitas usahatani Padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari cara tanam model tegel menjadi cara tanam Legowo. Legowo diambil dari bahasa jawa Banyumas yang artinya Lego = luas , Dowo =  memanjang. Jadi diantara kelompok barisan tanam padi terdapat lorong yang luas dan memanjang sepanjang barisan. Jarak tanam antar barisan (lorong) bisa mencapai 40 cm, 50 cm atau 60 cm tergantung kesuburan tanah (Suriapermana el, al , 1990).
Efektifitas dan Efisiensi teknologi ini dapat dilihat antara lain :
1.    Jumlah rumpun tanaman meningkat dari 250.000 per ha, menjadi 278.900 per ha
2.    Setiap tanaman mendapat sinar matahari secara merata dan optimal sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal.
3.    Memudahkan dalam penyiangan
Memudahkan pengamatan dan pengendalia  hama penyakit tanaman
5.    Pemupukan lebih efektif, karena diberikan di alur sempit sehingga distribusinya merata ke setiap pertanaman.

Persiapan dan pelaksanaan tanam sistim Legowo dua sebagai berikut :
Deskripsi teknologi
1.            Legowo dianjurkan adalah legowo dua baris tanam.
2.            Jarak tanam legowo (lorong yaitu jarak tanam antara dua baris tanam dengan dua baris tanam lainnya) bervariasi tergantung varietas padi yang ditanam dan kesuburan tanah (rekomendasi setempat).
3.            Jarak tanam dalam barisan bervariasi, yaitu 45 x 22,5 x 11 cm, 50 x 25 x 12,5 cm atau 60 x 30 x 15 cm atau sesuai anjuran setempat.
4.    Variasi jarak tanam legowo dapat dikembangkan oleh petani, tergantung dari pengalaman yang paling menguntungkan.
5.    Pada tanah yang subur, jarak tanam legowo lebih renggang dari tanah yang tidak subur.
6.    Untuk varietas padi yang daunnya terkulai gunakan jarak tanam legowo yang lebih renggang dari padi yang daunnya tegak.

Cara menseleksi benih padi sebelum sebar

1.            Buat Larutan garam 3 % ( 300 gr garam dapur + air 10 liter), aduk hingga larut
2.            Masukkan benih dari kantong kedalam larutan garam 3 % tersebut
3.            Benih yang mengapung buang, benih yang tenggelam selanjutnya direndam air selama 2 malam
4.            Angkat dan tiriskan dan perlakukan  benih dgn pestisida fipronil (untuk daerah endemik penggerek batang)
5.            Peram benih semalam sebar
Pesemaian dan Penanaman
Karena kebutuhan bibit tanaman padi meningkat jumlahnya sebagai
1.            akibat border effect meningkat maka proses pembuatan persemaian harus optimal.  Benih yang akan ditanam adalah benih unggul bermutu dengan persyaratan tumbuh 98 %.
2.            Luas pesemaian ditentukan 5 % atau seperduapuluh dari luas lahan yang akan ditanami, sehingga akan didapat bibit yang pertumbuhannya seragam dan besar/ kokoh.
3.            Pesemaian dirawat dengan di pupuk dan diamati jenis dan dikendalikan hama dan penyakitnya.
4.            Bibit dipindah ke lahan pada umur kurang dari 15- 21 hari
5.            Tanam dengan 1 – 3  bibit padi

Hasil Penelitian
Hasil penelitian Aup pahruddin,dkk, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Tahun 2004 membuktikan  Produksi Tanaman Padi  ditanam  dengan sistim tanam Legowo dua hasilanya meningkat sebesar 24, 20 %.
(dikutip  dari banyak sumber)
 

ARTIKEL KOMUNIKASI DAN PENYULUHAN PERTANIAN

Nama: Juniar abdillah
Nim: 201310210311035
Jurusan: agribisnis VI A

LATAR BELAKANG
   Kegiatan penyuluhan pertanian adalah suatu kegiatan penyampaian informasi kepada orang lain, dengan harapan orang tersebut dapat berubah perilakunya dengan mau melaksanakan informasi yang disampaikan. Seseorang berubah perilakunya dapat disebabkan setelah berinteraksi dengan orang lain. Bila kita ingin berinteraksi dengan orang lain, maka komunikasi amat diperlukan. Sehingga informasi apa yang ingin kita sampaikan dapat diterima oleh mereka. Berbicara penyuluhan, penyuluhan adalah proses pendidikan nonformal, yang intinya ingin merubah perilaku dari sasaran penyuluhan itu. Perubahan perilaku dapat terjadi apabila terjadi interaksi penyuluh yang akan menyampaikan informasi baru dengan sasaran dengan melakukan komunikasi dengan baik. Pertanyaannya, apakah komunikasi sudah berjalan dengan baik
   Penyuluh pertanian dapat dan harus menggunakan teknik-teknik komunikasi yang paling efektif agar sasaran mau menerapkan pengetahuan baru nya itu. Melalui komunikasi yang efektif dapat menunujang keberhasilan penyuluhan pertanian.



KOMUNIKASI
   Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, dan yang dinyatakannya itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai penyalurnya. Dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan (Effendi, Onong Uchjana, 1995: 9).
   Sementara untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Paradigma Laswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yakni: Komunikator, Pesan, Media, Komunikan, dan Efek. Jadi, menurut Lasswell dalam Effendy, Onong Uchjana(1995: 10) bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
   Dengan demikian komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan. Jika tidak terjadi kesamaan makna antara komunikator dan komunikan, dengan kata lain jika komunikan tidak mengerti pesan yang tidak diterimanya, maka komunikasi tidak terjadi. Dalam rumusan lain, situasi tidak komunikatif. Menurut Fisher dalam Arifin, Anwar (1995: 20), menyatakan bahwa tidak ada persoalan sosial dari waktu yang tidak melibatkan komunikasi.
   Secara sederhana Ardianto, Elvinaro (2009; 51) menjelaskan komunikasi adalah proses penyampaian pengertian antar individu. Masyarakat manusia bisa ada, akibat kapasitas manusia untuk menyampaikan maksud, hasrat, perasaan, pengetahuan, dan pengalaman dari orang yang satu kepada yang lainnya. Pada hakekatnya, komunikasi adalah suatu perilaku, dimana suatu sumber menyampaikan satu pesan kepada penerima dengan tujuan mempengaruhi perilaku si penerima.

PENGERTIAN PENYULUHAN PERTANIAN

bbppl - kom2    Istilah alternatif untuk penyuluhan dalam bahasa Belanda, digunakan kata voorlichting yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi Negara-negara jajahan Belanda, walaupun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua pihak. Indonesia misalnya, mengikuti cara Belanda dengan menggunakan kata penyuluhan, sedangkan Malaysia yang dipengaruhi bahasa Inggris menggunakan kata perkembangan. Bahasa Inggris dan Jerman masing-masing mengistilahkan sebagai pemberian saran atau Beratung yang berarti seorang pakar dapat memberikan petunjuk (Dari berbagai pandangan masih ditemukan beberapa kesamaan persepsi, menurut (Van den Ban & Hawkins, 2011: 25) satu diantaranya, yaitu bahwa “penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar” Disini terlihat adanya keterkaitan antara komunikasi dengan penyuluhan.
Oleh Van den Ban dan Hawkins, (2011: 28) penyuluhan secara sistematis dapat didefinisikan sebagai proses yang:

1. membantu menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan;
2. membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut;
3. meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani;
4. membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan;
5. membantu petani memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal;
6. meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya; dan
7. membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan.

   Dengan melihat rangkaian proses ini, untuk keberhasilannya tidak menjadi tanggung jawab penyuluh pertanian sepenuhnya, tapi juga peran aktif dari petani. Agar semua proses berjalan dengan lancar tanpa hambatan, komunikasi amat berperan dalam menghubungkan penyuluh dengan petani.
   Sistem penyuluhan pertanian seperti yang tertera dalam UU RI No. 16 tahun 2006 merupakan seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan serta sikap pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) dan pelaku usaha melalui penyuluhan. Disebutkan pula bahwa Penyuluhan Pertanian adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengertian tersebut mengandung makna bahwa di dalam proses pembelajaran terjadi proses-proses lain yang terjadi secara simultan, yaitu:
a. Proses komunikasi persuasive, yang dilakukan oleh penyuluh dalam memfasilitasi sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha) beserta keluarganya guna membantu mencari pemecahan masalah berkaitan dengan dan pengembangan usaha mereka. Proses pemberdayaan, maknanya adalah memberikan kuasa dan wewenang kepada pelaku utama dan pelaku usaha sehingga setiap orang pelaku utama dan pelaku usaha (laki-laki dan perempuan) mempunyai kesempatan yang sama untuk : a) Berpartisipasi; b) Mengakses teknologi, sumberdaya, pasar dan modal; c) Melakukan kontrol terhadap setiap pengambilan keputusan, dan d) Memperoleh manfaat dalam setiap lini proses dan hasi pembangunan pertanian.
b. Proses pertukaran informasi timbal balik antara penyuluh dan sasaran mengenai berbagai alternatif yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengembangan usahanya.

PERAN KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN
Ditinjau dari prosesnya, penyuluhan adalah komunikasi dalam arti kata ada dua komponen yaitu manusia, yang satu sebagai pemberi pesan atau komunikator dan satu lagi sebagai penerima pesan atau komunikan. Dalam proses ini penyuluh pertanian bertindak sebagai komunikator (pemberi pesan), sedangkan petani merupakan komunikan (penerima pesan). Perbedaan antara komunikasi dengan penyuluhan terletak pada tujuannya, dimana tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan penyuluhan sifatnya khusus, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Tujuan akan tercapai bila terjadi komunikasi yang dapat dipahami. Komunikasi yang bagaimana yang menunjang tujuan penyuluhan mudah tercapai? Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang bersifat dua arah.

   Namun bisa saja terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi, dimana pesan tidak dapat dimengerti oleh penerima pesan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor penghambat komunikasi antara pengirim dan penerima pesan. Faktor-faktor penghambat komunikasi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat masalah utama , dikemukakan oleh Purwanto, Djoko (2009: 13), mencakup : 1) masalah dalam mengembangkan pesan; 2) masalah dalam penyampaian pesan; 3) masalah dalam menerima pesan; 4) masalah dalam menafsirkan pesan.
   Menghindari ini semua, dalam penyuluhan pertanian perlu dilakukan perencanaan terlebih dahulu, sehingga proses penyuluhan pertanian untuk membantu petani mencapai tujuannya dapat terlaksana dengan baik, dengan menghilangkan faktor penghambat yang kemungkinan besar dapat terjadi dalam komunikasi. Tampak peran komunikasi amat besar dalam kegiatan penyuluhan penyuluhan, yang akan mempengaruhi dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasinya.
   Penyuluh sebagai komunikator yaitu penyampai pesan, sedangkan sasaran dalam hal ini disebut komunikan sangat yang dipengaruhi oleh latar belakangnya, baik secara individu maupun secara berkelompok. Untuk penyuluh sendiri adakah mereka siap melakukan komunikasi dari berbagi aspek, apakah pesan yang dibawanya sudah sesuai dengan apa yang diinginkan sasaran juga saluran atau media yang dilakukannya sudah sesuai?, sudah tepatkah metode yang digunakannya. Namun unsur yang paling utama dalam melakukan perubahan perilaku ini yaitu terjadinya komunikasi yang baik antara si pemberi pesan yaitu penyuluh, dengan si penerima pesan yaitu orang yang diharapkan perubahan perilakunya. Dalam sektor pertanian, apakah bagaimana pelaksanaan penyuluhan pertanian di tingkat lapangan, sudah berjalan lancar, dan sudahkah mencapai tujuan yang diharapkan?
   Fenomena di tingkat lapangan menggambarkan masih lemahnya proses penyuluhan pertanian dengan dampak yang ada, disinyalir salah satu penyebabnya adalah hambatan komunikasi. Sebab dalam proses komunikasi tidak hanya sekedar berbicara saja, tapi pesan itu dapat disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hambatan komunikasi ini perlu ditelaah, apa yang menjadi penyebabnya. Bila perubahan perilaku sebagai bagian dari tujuan penyuluhan belum tercapai, jangan hanya sasaran yang dipersalahkan. jangan-jangan masalah nya justru berasal dari komunikator yaitu penyuluh sebagai pembawa pesan. Apa penyebabya apakah karena ketidaksiapan materi yang akan disampaikan, ataukah karena prasarana yang tidak memadai, bisa pula terjadi karena gangguan dalam proses penyampaiannya. Kegagalan berkomunikasi sering menimbulkan kesalah pahaman, kerugian, dan bahkan malapetaka, Risiko tersebut tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat lembaga, komunitas, dan bahkan Negara. Untuk menjadi seorang komunikator yang efektif, harus berusaha menampilkan komunikasi (baik verbal maupun nonverbal) yang disengaja seraya memahami budaya orang lain















DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar,Ilmu Komunikasi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Alvin Goldberg dan Carl Larson . 2006. Komunikasi Kelompok. Penerbit Universitas ndonesia, Jakarta.
Jalaludin Rakhmat, 2005, PsikologiPT Remaja RosdakaryBandung
Ludlow, Ron & Panton, Fergus,Komunikasi Efektif. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Onong Uchyana Effendy, 1995, Ilmu Komunikasi (teori dan praktek), Penerbit PT Remaja, Bandung
Purwanto, Djoko,Komunikasi Bisnis. Penerbit Erlangga, Jakarta
Tarya D. Sugarda, Sudarmanto & Samedi Sumintaredja, Penyuluhan Pertanian, 2001, Yayasan Pengembangan Sinar Tani
Van den Ban & Hawkins, Penyuluhan Pertanian, 2009, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

PERAN SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI BAGI MASYARAKAT DESA DALAM MENGHADAPI MEA

Nama Kelompok/NIM :
Krosita Galuh Kartika M     201310210311022
Istifarin Yulia                      201310210311037


     Masyarakat pedesaan di Indonesia tergolong masyarakat yang sangat jauh tertinggal, hal ini disebabkan keberedaan wilayah yang jauh dari pusat pembangunan Nasional, bahkan hampir tidak tersentuh oleh pembangunan Nasional. Desa sebagai wilayah kesatuan hukum yang berkedudukan di wilayah NKRI tentunya tidak lepas dari obyek persaingan pasar bebas, bukan saja terhadap kualitas produk/barang yang dihasilkan desa, tetapi sumber daya manusia sebagai pengelola sumber daya alam, budaya dan modal social lainnya tentunya akan di hadapkan pada persaingan ekonomi. Adanya tantangan tersendiri bagi masyarakat desa agar dapat ikut berpartisipasi terhadap MEA. Mereka harus mampu bersaing di tengah lalu lintas perdagangan baik barang maupun jasa yang pelaku perdagangannya sudah bukan dalam negeri, tetapi terdiri dari orang-orang dalam negeri maupun luar negeri yang berasa di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia tentunya harus mempunyai potensi agar dapat bertahan dan menjadi pelaku utama di era MEA nantinya. Agar dapat berpartisipasi dan menjadi pelaku utama tentunya juga membutuhkan hard skill dan soft skill. Selain dari skill masyarakat Indonesia juga harus menguasai bahasa asing terutama bahasa inggris yang menjadi bahasa utama yang digunakan para anggota yang mengikuti MEA.
     MEA sendiri telah disiapkan seluruh anggota ASEAN yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN dan membentuk kawasan ekonomi antar Negara ASEAN yang kuat. Seharusnya Indonesia ikut berpartisipasi bahkan menjadi pelaku utama mengingat sumber daya alam yang berada di Indonesia sangat berpotensi. Dimana jika dikelola dengan sangat baik maka Indonesia pastinya banyak melakukan ekspor berbagai macam komoditi, dilihat dari sector kelautan dan pertanian.
Masyarakat desa harus mulai membangun potensi yang ada di desa tersebut. Karena sangat banyak potensi yang dimiliki masyarakat desa jika digali lagi dan di tunjang dengan adanya fasilitas dari pemerintah. Memang keadaan yang seperti ini pemerintah harus ikut andil terlebih kepada masyarakat desa yang masih belum banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Perhatian khusus dari pemerintah seperti hal nya fasilitas dan teknologi yang canggih, selain itu pemerintah juga memperhatikan pendidikan masyarakat desa tersebut. Karena jika diberikan fasilitas yang modern dan teknologi yang canggih tanpa ditunjang dengan pendidikan yang tinggi juga tidak akan membuahkan hasil. Pendidikan terutama sangat berpengaruh terhadap banyak aspek. Sebenarnya tantangan masyarakat desa terhadap MEA ialah pendidikan tersebut. Kebanyakan masyarakat desa mengenyam pendidikan sampai lulus SD ataupun lulus SMP padahal untuk menghadapi MEA tersebut juga harus di tunjang dengan pendidikan yang tinggi agar mampu bersaing dan menggali potensi yang ada dengan bijak. Apabila pendidikan masyarakat desa sudah sangat baik, barulah pemerintah memberikan fasilitas dan teknologi yang canggih. Jika kebanyakan masyarakat desa berkecimpung di bidang pertanian, maka sebaiknya pemerintah memfasilitasi teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil produksi di bidang pertanian. Hasil pertanian meningkat maka Indonesia dapat mengekspornya ke luar negeri sehingga Indonesia menjadi Negara yang mandiri tidak lagi bergantung pada impor. Dengan begitu masyarakat desa dapat bersaing di era MEA nantinya.
    Sistem Informasi Desa sudah saatnya dibangun untuk memudahkan masyarakat desa mengakses pengetahuan-pengetahuan seputar MEA, sehingga masyarakat desa tersebut tidak ketinggalan mengenai informasi tersebut. Selain itu masyarakat desa agar lebih mengetahui apa itu MEA dan bagaimana untuk meghadapinya. Bukan malah menakutinya atau bahkan menghindarinya. Tantangan pembangunan nasional berbasis desa dan daerah pinggiran saat ini antara lain adalah ketersediaan data dan informasi geospasial yang memadai, baik cakupan ketersediaan maupun tingkat kedetilan yang masih sangat terbatas. Sistem informas desa ini dapat menghubungkan desa satu dengan yang lain, dan saling berbagi informasi sehingga saling membantu antar desa satu dengan yang lain dalam hal menghadapi MEA tersebut
     Menurut pasal 86 undang – undang No.6 tahun 2014 yaitu
  1. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi yang dikembangkan oleh pemerintah daerah kabupaten /kota.
  2. Pemerintah dan pemerintah Daerah wajib mengembangkan sistem informasi desa dan pembangunan kawasan perdesaan.
  3. Sistem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia
  4. Sistem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 meliputi data desa, data pembangunan desa, kawasan desa, serta informasi lain yang berkaitan dengan pembangunan desa dan pembangunan kawasan perdesaan
  5. Sitem informasi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dikelola oleh pemerintah desa dan dapat diakses oleh masyarakat desa dan semua pemangku kepentingan
  6. Pemerintah daerah kabupaten/kota menyediakan informasi perencanaan pembangunan kabupaten/kota untuk desa
      Dengan disusunnya undang-undang mengenai sistem informasi desa tersebut maka pemerintah juga mengharapkan desa-desa atau daerah tertentu mengalami kemajuan, bahkan jika pemerintah tidak dapat memantau langsung turun lapang, pemerintah dapat memantau melalui sistem informasi yang telah dibentuk oleh setiap desa sehingga pemerintah dapat menentukan arah pembangunan di setiap desa yang memang memerlukan adanya pembangunan, sehingga tidak ada lagi desa-desa yang tertinggal.
      Berdasarkan pembahasan diatas sistem informasi memilik peranan yang sangat penting dalam pembangunan desa. Minimnya pemahaman masyarakat mengenai teknologi akibat rendahnya SDM masyarakat Desa sehingga pengembangan sistem informasi di Desa tersebut masih sangat kurang. Permasalahan juga terjadi ketika masyarakat desa juga ikut serta dalam MEA, sistem informasi akan dapat memudahkan memecahkan permasalahan masyarakat dan pembangunan desa juga akan ikut terlaksana. Melihat karakteristik perdesaan dengan kultur agrarisnya, keperluan masyarakat terhadap berbagai informasi pembangunan sebenarnya sangat tinggi. Namun media informasi yang ada, sekarang ini belum bisa memenuhi keperluan informasi masyarakat desa. Apalagi kawasan perdesaan sebagian besar jauh dari pusat pemerintahan yang notabene juga pusat informasi dan perekonomian. Sehingga tidak heran kalau selama ini desa tidak hanya termarjinal dari akses ekonomi tetapi juga akses informasi.

DAFTAR PUSTAKA
    Sutardjo, 2015, http://www.kompasiana.com/sutardjo/tantangan-desa-menuju-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015_54f42ff77455139e2b6c87fc, (Online), diakses pada 3 Juni 2016 pukul 18.00 WIB.
    Mitra Turatea, 2015, https://mitraturatea.wordpress.com/category/sistem-informasi-dan-administrasi-desa/, (online), diakses pada 3 Juni 2016 pukul 18.00 WIB.










PERAN KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Nama : Kholidah Farah
Nim    : 201310210311120   
Kelas  : Agribisnis VI


Salah satu aspek penting dalam pembangunan pertanian di daerah pedesaan adalah kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan bagi kepentingan penduduk yang jumlahnya senantiasa meningkat. Hal ini berlaku mutlak bagi negara-negara sedang berkembang agar mereka dapat melaksanakanswasembada pangan. Salah satu ciri dari pertanian di Indonesia adalah pemilikan lahan pertanian yang sempit, sehingga dengan demikian pengusaha pertanian di Indonesia dicirikan oleh banyaknya rumah tangga tani yang berusahatani dalam skala kecil. Akibatnya, para petani di Indonesia sebahagian terdiri dari petani-petani kecil dengan ciri dan karakteristik umum sebagai berikut: (a) petani yang memiliki luas lahan sempit, yaitu: luasan lahan sawah: < 0,25 ha (Jawa) dan < 0,50 ha (Luar Jawa) dan luasan lahan tegal: 0,50 ha (Jawa) dan 1,00 ha (Luar Jawa); (b) petani yang memiliki produksi pangan rendah, yaitu < 240 kg beras/kapita/ tahun; (c) petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas; dan (4) petani yang memiliki pengetahuan yang terbatas dan kurang kurang dinamis.
Pada umumnya, keadaan petani kecil di negara-negara berkembang adalah beragam namun tetap pada batas-batas penguasaan sumberdaya yang terbatas. Petani kecil seperti ini sering melakukan usahataninya dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang semakin lama semakin meningkat. Sebagai akibat sumber-sumber yang dimiliki petani sangat terbatas, maka tingkat kehidupannya juga serba “pas-pasan” bila tidak ada bantuan dari sumber lain di luar bidang pertanian. Akibatnya, seringkali ditemukan bahwa dalam penguasaan lahan pertanian yang terbatas dari petani, maka komoditi pertanian yang diusahakan adalah komoditi untuk keperluan konsumsi sehari-hari.
Ciri usahatani petani kecil demikian sering disebut petani subsisten. Dalam banyak kenyataan di negara-negara berkembang, seringkali peranan petani kecil ini dilupakan, sehingga mereka sering pula terlupakan untuk mendapatkan pelayanan, apakah itu pelayanan dalam bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Akibatnya, mereka sering kurang responsif terhadap pengenalan teknologi baru, atau kurang mau melakukan usahatani yang sifatnya mempunyai resiko (dan ketidakpastian) yang tinggi.
Dalam kaitan dengan komunikasi pertanian, maka upaya yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana melakukan komunikasi dengan petani-petani kecil dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, agar pesan yang disampaikan melalui komunikasi pertanian dapat diserap dan selanjutnya diterapkan dalam usahatani mereka. Dalam metode penyuluhan pertanian, pengertian diterapkan dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) bagaimana petani kecil dapat bertani atau berusahatani dengan cara yang lebih baik, misalnya cara bercocoktanam, cara memelihara kesuburan tanah, cara memperlakukan teknologi lepas panen, dan sebagainya; (b) bagaimana petani kecil mampu dan mau berusahatani secara menguntungkan, baik dalam usahatani secara monokultur ataupun secara tumpangsari; dan (c) bagaimana petani kecil mampu meningkatkan kesejahteraannya atau bagaimana mereka dapat hidup sejahtera.
Dengan demikian, peranan komunikasi pertanian terhadap kehidupan petani kecil di Indonesia adalah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup petani dan keluarganya. Dalam proses komunikasi pertanian sendiri bukan saja dilakukan melalui cara satu arah (one-way traffic), tetapi juga dua arah (two-way traffic), yang tentu perlu diperhatikan aspek lingkungan atau sistem sosial yang ada disekelilingnya. Berhubung karena sistem pertanian di Indonesia dicirikan oleh adanya banyak petani kecil, maka komunikasi pertanian sangat bermanfaat kalau diperhatikan kelompok sasaran petani kecil ini. Perlu diingat bahwa ciri petani kecil ini sangat kondisional di mana kehidupan petani kecil yang tinggal di satu daerah tentu berbeda dengan petani kecil lain yang tinggal di daerah lain, sehingga pelaksanaan pemberian pesan dari komunikator dalam melaksanakan komunikasi pertanian, perlu pula diperhatikan lingkungan seperti ini.
  • Metode Pendekatan
Dalam melakukan komunikasi pertanian kepada masyarakat telah dikenal dua metode pendekatan, yaitu: (1) pendekatan berdasarkan kelompok sasaran dari inovasi, dan (2) pendekatan berbasarkan cara penyampaian isi pesan yang terkandung dalam inovasi tersebut. Kedua metode pendekatan ini akan dibahas secara terpisah.
  • Metode Pendekatan Sasaran
Berdasarkan kelompok sasaran, maka metode pendekatan komunikasi ini dapat dilakukan melalui:
  • Metode pendekatan massa (mass approach method)
  • Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan awal serta kesadaran bagi petani tentang suatu inovasi yang berguna dalam meningkatkan hasil produksi usahatani mereka. Penyampaian pesan melalui cara ini biasanya disampaikan dalam pertemuan massal, melalui media massa: televisi, koran, film dan sebagainya. Pendekatan ini kurang efektif bagi petani-petani di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya, karena beberapa faktor berikut:
  1. tidak bisa dipantau ataupun dievaluasi secara pasti keberhasilan yang telah dicapai oleh para petani
  2. wilayah jangkauan pendekatan sasaran terlalu luas
  3. rendahnya daya tangkap masyarakat petani, karena mereka rata-rata berpendidikan sangat rendah; dan
  4. harga beberapa media yang digunakan seperti televisi dan koran sangat sulit dijangkau oleh tingkat ekonomi para petani.

  • Metode pendekatan kelompok (group approach method)
Cara pendekatan komunikasi ini dilakukan melalui penyampaian informasi inovasi kepada petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok petani, baik kelompok-kelompok petani tradisional, seperti Subak di Bali dan kelompok-kelompok petani yang sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti kelompnecapir di TVRI, Kelompok Tani dan Nelayan, Kelompok Swadaya Masyarakat, dan sebagainya. Dalam kegiatan komunikasi penyuluhan pertanian di Indonesia, pendekatan kelompok sudah menjadi metode dalam pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia di desa maupun di kota dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Dipandang dari segi komunikasi informasi, maka pendekatan kelompok ini jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan massa, karena mempunyai beberapa keuntungan, sebagai berikut: (a) penyebaran inovasi teknologi dapat dipantau atau dievaluasi secara baik karena jumlah anggota sasarannya jelas; (b) d antara anggota kelompok yang satu dengan yang lainnya dapat saling memberi dan menerima informasi, terutama tentang hal-hal yang belum jelas; (c) akan terjadi akumulasi modal (fisik maupun non-fisik) sehingga dapat memperlancar jalannya komunikasi dalam kelompok yang bersangkutan; (d) antara anggota kelompok dapat dilakukan reward and punishment systemsecara efektif dan efisien; dan (e) lebih menghemat biaya, tenaga dan waktu, tetap akan diperoleh hasil yang jauh lebih baik.


Sebaliknya, pendekatan kelompok juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagai berikut:
  1. jika manajemen kelompok kurang baik, maka akan terjadi penyimpangan, baik penyimpangan penyebaran informasi maupun penyimpangan pembagian keuntungan dari suatu inovasi
  2. komunikasi akan tidak efektif jika jenis usaha anggota kelompok beragam; dan
  3. kemungkinan akan muncul kaum elit tertentu dalam kelompok apabila tidak diarahkan secara baik sehingga akan menghambat kehidupan berdemokrasi kelompok; dan
  4. rendahnya keterampilan para petani dalam kehidupan kelompok/berorganisasi.
  • Metode pendekatan individu (personal approach method)
Cara pendekatan ini dilakukan dengan cara mengunjungi para petani satu per satu, baik ke rumah petani maupun di kebun petani ataupun tempat-tempat tertentu yang memungkinkan untuk dilakukan komunikasi inovasi. Keuntungan-keuntung an dari metode pendekatan perorangan, antara lain: (a) petani yang dikunjungi seorang petugas merasa dihargai oleh petugas yang melakukan komunikasi pertanian; (b) meningkatkan kepercayaan diri petani karena komunikasi ini dapat dilakukan dari hati ke hati; (c) petani dapat menyampaikan segala macam keluhan/masukan- masukan bagi petugas/penyuluh tanpa merasa canggung dan malu dengan sesama teman petani; (d) petugas/penyuluh dapat menggali semua masalah serta kebutuhan maupun hambatan-hambatan yang dihadapi petani selama berusahatani; dan (e) petugas/penyuluh dapat memberikan informasi yang cocok dengan kebutuhan serta masalah petani pada saat itu. Sebaliknya, metode pendekatan ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: (a) tidak bisa menjangkau petani dalam jumlah yang banyak; (b) memakan waktu yang lama; (c) membutuhkan biaya yang tinggi; dan (d) membutuhkan banyak tenaga petugas/penyuluh.
  • Metode Pendekatan Materi
Berdasarkan cara penyajian inovasi dalam rangka lebih menjamin efektivitas hasil komunikasi (khususnya dalam pertemuan kelompok), maka digunakan pendekatan gabungan berikut: (a) ceramah, diskusi dan tanya jawab; (b) demonstrasi cara dan demonstrasi hasil; dan (c) penggunaan alat bantuflipchart dan folder. Penggunaan metode gabungan ini cukup efektif, baik dalam mewujudkan komunikasi dua arah (two-way traffic communication) maupun peningkatan pemahaman serta kemampuan menerapkan inovasi yang diberikan. Dengan demikian, para petani akan lebih memahami dan mengerti tentang cara-cara menerapkan inovasi dalam praktek usahatani mereka.